Wednesday, July 01, 2009

Kenalin ini blog (-blog) saya

Saya mulai ngeblog di tahun 2005. Di blogspot. Waktu masih di Bappeda dulu. Gak terasa... udah 288 postingan aja gitu sampai sekarang. Itu di blog yang itu doang.

Lalu, lupa mana yang duluan, akhirnya blog nya berkembang biak jadi multiply dan satu lagi blog di blogspot.

Gara-gara temen yang satu itu bikin mp, dia maksa-maksa saya ninggalin komen di postingannya. Terpaksa deh bikin mp. Sampai sekarang, udah 234 postingan disini. Wuih... banyak juga ya.

Dan, berlagak bak reviewer canggih, muncullah satu blog lagi yang isinya buku-buku. Yang uda dibaca. Bukan yang ditulis. Jadi penulis, masih jadi cita-cita *harreee geneee masih ada cita-cita*. Satu-satu diisi... udah sampe 48 postingan. Itu belum semua buku yang saya baca. Pembaca buku amatir ini kadang ngambek di tengah jalan kalo bukunya gak 'menyenangkan'. Gak khatam, berarti gak bisa nulis posting disana. Khatam dan keburu baca buku lainnya dan keburu lupa buku sebelumnya, juga berarti gak posting disana. Halahhhh...blogger sa'pena'e dewe... hihihi

Dan pembaca setia *cuihhh GR nyaa* akan tahu bahwa isi postingannya beda-beda. Jarang yang di cross post.

Gileeee gak terasa uda lebih dari 500 tulisan gak jelas ujung pangkalnya mewarnai dunia maya

*di cross post ke multiply juga*

Meet my guardian angels

Namanya Maria Nicolina dan Mudjito. Saya memanggil mereka madame dan om jito. Mereka sudah jadi tetangga sebelah rumah saya sejak saya lahir. Sampai sekarang. Mereka punya 3 orang anak. Yang bungsu usianya hanya 5 hari lebih muda dari saya.

Kalo dahulu ibu saya yang bangunin saya pagi-pagi, beberapa tahun lalu madame lah yang setia mengetuk pintu rumah kami ketika waktu sahur tiba. Dengan hidangan sahur di meja makannya. Padahal keluarga mereka pergi ke gereja.

Kalo dulu bapak saya yang ngeluarin motor saat saya gak kunjung dapat angkot dan terancam kesiangan tiba disekolah, sekarang om jito yang mengetuk pintu saya, mengajak berangkat kantor bareng dengan motornya, ketika saya bangun kepagian.

Madame tau saya gak doyan ikan atau sambal. Om Jito tau adek saya suka minum teh manis pagi sebelum tidur. Mereka yang paling tau rumah saya bocornya disebelah mana. Mereka yang paling depan membela kepentingan saya dan adik saya. Mereka yang paling keras memperjuangkan apa yang menurut mereka terbaik untuk saya dan adik saya. Madame yang pertama kali menawarkan diri menemani ibu saya berangkat ke rumah sakit setiap hari. Madame yang bergegas ke rumah sakit ketika ibu saya akan menutup mata.

Dari cerita Om Jito saya tau bahwa cara paling ampuh menghentikan tangis anak sulungnya ketika masih kecil adalah dengan kalimat, "tuh...pakde Rosul uda pulang". Iya...bapak saya itu emang galak, nyeremin hehehe. Dari madame saya tau bahwa ibu saya dan madame suka jalan ke Mayestik kalo lagi iseng kurang kerjaan. Muter-muter di Esa Genangku aja. Makan somay atau bakso atau soto atau beli cendol elizabeth, lalu pulang.

Gak heran kan kalau madame dan Om Jito ini tidak pernah rese nanya "kapan kawin" disertai nasihat 'bijaksana' kenapa saya harus menikah segera: mumpung masih muda, mumpung punya pacar, mumpung sudah kerja, dan mumpung mumpung lainnya.

Ah...

Sampai lelah mencoba pun, sata tak akan mampu membalas sepersepuluh kebaikan mereka pada saya.

*sayang, saya gak punya foto mereka*

Saturday, June 13, 2009

(episode) House paling keren

Saya dan pacar sedang keranjingan House. Kami nonton season 1-5 berurutan. Dokter menyebalkan yang pintar dan (nyaris) selalu benar ini, benar-benar bikin kecanduan. Udah gitu, biar berangosan *baca: males cukuran*, dia tetap sedap dipandang mata (saya). Slurrpppp... Hahahaha

Eniwe, episode favorit saya adalah ketika House dan Cuddy ada di pesawat, dan ada 1 orang yang jatuh sakit. Penumpang lainnya khawatir ketularan. Udah gitu, penerbangannya masih lama pula. Sebagai pelengkap penderitaan, si Cuddy juga (diduga ketularan) sakit. Hampir semua orang yakin kalo penyakit yang diderita orang pertama ini menular. Si House lalu ngomong di depan, dia bilang penyakit orang di depan tadi, menular. Siapa aja yang merasakan gak enak di perutnya, dan tangan kiri yang bergetar, berarti uda ketularan. Serentak orang ngeliat tangan kirinya. Sebagian besar memang gemetar. Makin paniklah mereka.

Dan setelah itu, dengan santainya House bilang bahwa dia bohong. Penyakit orang di depan itu gak menular. Gejala yang barusan muncul (perut gak enak dan tangan bergetar) hanyalah sugesti yang dimunculkan oleh otak masing-masing setelah mendengar perkataan House. Jadi pas House bilang 'tangan bergetar', maka orang pada mikirin 'tangan bergetar' dan berusaha menemukan apakah 'tangannya memang bergetar'. Otak orang tersebut menerima signal tersebut sebagai suruhan untuk membuat tangan bergetar. Dan memang akhirnya itu tangan bergetar.

Jadi intinya adalah, pikiran apa yang kita masukin ke dalam otak kita.

Saya sedang didatangi sakit lutut saat itu. Lelah membuktikan bahwa ini sakit otot biasa karena olahraga, saya akhirnya meyakinkan diri saya saja, bahwa ini bukan apa-apa. Bahwa ini gak sakit. Bahwa kaki saya, sebentar lagi normal.

Apakah berhasil? Apakah setelah itu kaki saya 'sembuh'?

Tidak saudara-saudara.

Moral story nya adalah : itu cuma berhasil kalau si House beneran yang ngomong, hahahaha.

Friday, June 12, 2009

Do not do this at home!

Saya dan pacar sedang menonton salah satu episode House. Ada adegan kakak yang sangat 'ngemong' adeknya. Si kakak sekita 10 tahunan. Adeknya mungkin 6-7 tahun. Pas adeknya gak mau minum obat, kakaknya bilang, "ini vitamin biar badan kamu cepet gede". Dan adeknya percaya lalu minum. Karena si pacar adalah anak kedua dari 2 bersaudara dengan kakak laki-laki yang beda usianya cuma 2 tahun, maka saya tanya dong, "dulu ama si aa (panggilannya pada si kakak) juga kayak gitu?". Dan apakah anda tau jawabannya???

"enggak. Dulu dia gue kejar-kejar sambil megang pisau", dia jawab sambil nyengir.

OMG. Jadi selama ini gue memacari pria anarkis gini? *hiperbola*. Abis itu baru lah terjadi dialog dibawah ini

Saya : ngapain lo bawa-bawa piso?
Pacar : abis gue dijadiin latihan bela dirinya
S : owh... lo ditonjok?
P : enggak
S : lha terus?
P : gue ditendang perutnya
S : widiiiiihhhhh
P : ya abis itu gue ambil aja pisau, gue kejar si aa
S : pisau apaan?
P : pisau dapur maknyak (panggilan kami pada ibunya)
S : trus si aa nya?
P : dia lari terbirit-birit
*saya uda mulai ketawa cekikian disini. Ngebayangin ada anak kecil cowok yang lari terbirit-birit karena dikejar adeknya dengan pisau terhunus. Asli.. nulis ini aja saya masih cekikikan*
S : ketangkep?
P : enggak lah
S : baguslah. Maknyak tau?
P : tau
S : bujettt.... apa gak pingsan tuh maknyak ngeliat 2 anak cowoknya berlarian megang pisau
P : Hehehehe... enggak lah. Tapi gue mau dibawa ke dukun
*huahahahahahahaha.... saya membayangkan ibunya pasti mengira nih anak kesambet setan pohon mangga*
S : wah.. lo disembur pake air kembang 7 rupa dong ama mbah dukun
P : ya enggak lah. Gak jadi ke dukun juga kok

Makkkk.... semoga tidak 'kesetanan' lagi deh pacar saya ini.
Benar-benar berbahaya. Do not do this at home!

Monday, June 08, 2009

Ancaman masuk penjara yang benar-benar menakutkan

Heboh kasus bu Prita membawa reaksi yang hampir seragam. Well, at least pada orang-orang sekitar saya. Reaksi yang muncul adalah: TAKUT. Penjara memang masih menakutkan bagi sebagian besar orang. Takut masuk penjara, jadi takut nulis, jadi takut berkeluh kesah, jadi takut berpendapat.

Saya gak ngerti (dan masih belum berminat untuk mencoba mengerti) masalah hukum, undang-undang, dan peradilan. Jadi saya gak minat nulis bagian itu. Tapi bagian berani bicara. Mmm... kalo ngeblog jadinya berani menulis. Berani bertanya. Berani memberi tahu.

saya ingat dahulu saya penasaran kenapa jco gak mau ngasih saya 2 dus ukuran setengah lusin ketika saya membeli 1 lusin donat. Sebenarnya saya uda mengira-ira sih alasannya. Saya kan gak bodoh. Tapi saya pengen dapat konfirmasi, ya bahwa saya gak bodoh itu. Bahwa apa yang saya tebak benar adanya. Kalay jawaban yang diberikan ternyata berbeda, kan kemungkinannya hanya ada 2: saya yang belum pintar-pintar amat, atau mereka yang belum pintar-pintar amat. No hurt lah. Toh saya juga tetep doyan makan donat mereka.

Kalo surat ke Aksara, lebih bertujuan untuk mengingatkan manajemen pada komitmen mereka. Beneran. Toh apapun yang mereka jawab, saya tetep kesana kalo mau beli buku tertentu.

Nah, yang terbaru adalah buat tempat olahraga itu *cuma bisa dibuka oleh network saya*. Saya juga tau bahwa ngomel-ngomel demi (beberapa) tas gak worthed sama sekali. Saya join disana karena pengen olah raga, bukan karena pengen tas. Saya ngasih info ke temen yang bertanya, karena mereka teman saya, bukan karena pengen tas juga. Tapi, kan mereka yang punya program promo itu, yang tidak lupa disertakan di setiap newsletternya. Saya cuma mau tau, apakah pemahaman saya pada program mereka sama dengan pemahaman mereka sendiri. Dan ketika saya dapat jawaban (yang masih terasa mengganjal), saya tanya sama sumber lainnya. Yang relevan *eh.. manajer, sumber yang relevan kan ya*

Lagian, saya nulis ke mereka dulu, dan nunggu jawaban, sebelum akhirnya masang di blog. Jawaban mereka juga saya pasang di blog. Adil kan.

Kalo saya yang punya perusahaan, I would loooooove to know what my customer thinks about my product. The good and the bad. Terdengar terlalu idealis ya? Enggak ah. Kalo saya yang ilmunya pas-pasan begini aja bisa mikir begini, apalagi mereka yang berilmu, lebih berpengalaman kan. Sayangnya, sebagian besar orang baru 'bicara' ketika ada yang salah. Kalau benar, jarang ada yang mau 'bicara'. Ini menjadikan kesan bahwa opini, surat pembaca, melulu negatif isinya. Padahal harusnya gak begitu.

Jadi, bagi perusahaan yang pernah saya 'surati', bersyukurlah kalian. Karena dari surat saya, anda dapat gambaran apa yang konsumen anda rasakan. Gak semua konsumen anda bersedia melakukan keterangan ini. Saya gak segan mengisi kertas saran kalau memang saya rasa ada yang perlu disarankan. Dan gak semua konsumen bersedia melakukan hal ini.

Dan saya berniat untuk terus melakukan hal ini. Jika diperlukan.